Logo LENGARU.ID
Fitur Tutur Siar Ide
Pelantikan Serentak Pengurus Gekrafs se-Sulteng

Pengurus Gekrafs se-Sulteng periode 2026–2029 resmi dilantik, Selasa (28/7/2026) malam. Langkah awal mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Sulteng.

Oleh Advertorial
29 Juli 2026 15:48 Siar
Bagikan ke:

Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar forum diskusi interaktif bertajuk "Optimalisasi Hak Kekayaan Intelektual sebagai Aset Ekonomi dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Daerah", Selasa (28/7/2026).

Diskusi yang berlangsung di Grand Sya Hotel Palu itu menjadi bagian dari rangkaian acara pelantikan pengurus Gekrafs se-Sulteng periode 2026–2029.

Kabid Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum Sulteng, Aida Julpha Tengkere, menjadi pembicara pertama yang memaparkan ihwal bidang yang ditanganinya.

Secara umum, hak kekayaan intelektual (HKI) atau kekayaan intelektual (KI) adalah hak yang timbul dari proses kreativitas manusia untuk menghasilkan suatu produk atau karya yang berguna dan memiliki nilai ekonomi.

Intinya, HKI memberikan hak eksklusif kepada pencipta untuk menikmati manfaat ekonomi atas karyanya, sekaligus melindungi karya tersebut dari penggunaan tanpa izin oleh pihak lain.

"HKI bukan sekadar legalitas hukum, tapi merupakan aset yang tak berwujud. Semakin jelas kepemilikan dan perlindungan hukumnya, maka semakin tinggi nilai ekonomi yang bisa didapat dari sebuah karya kreatif," ujarnya.

Aida menuturkan bahwa kesadaran pelaku usaha di Sulteng untuk memiliki hak kekayaan intelektual menunjukkan tren yang positif.

Selama tahun 2026, kata dia, sudah hampir seribu permohonan pendaftaran HKI yang mereka terima. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

HKI punya peran strategis bagi pelaku ekonomi kreatif, misalnya menyangkut perkara lisensi dan royalti. Pemilik HKI dapat memberi izin pihak lain untuk menggunakan karya/mereknya dengan imbalan berkelanjutan.

Selain itu, HKI dapat dijadikan agunan fidusia untuk mengakses pembiayaan perbankan maupun lembaga keuangan nonbank. Pun dengan perlindungan HKI, merek atau usaha yang dijalankan dapat berdaya saing, meningkatkan nilai jual produk serta kepercayaan pasar.

"Banyak yang berpikir biaya (permohonan) Rp500 ribu sangat mahal, terutama kalangan UMKM. Tapi keuntungan ada pada pelaku usaha, bukan Kemenkum," jelas Aida.

Narasumber kedua, Lavenia dari Kantor BNI Cabang Palu, menyebut Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi instrumen yang bisa digunakan untuk pertumbuhan ekonomi kreatif.

Pelaku industri kreatif kini mendapat kemudahan karena sertifikat HKI dapat dijadikan sebagai jaminan pendukung dalam pengajuan KUR.

KUR terbagi dalam beberapa plafon; super mikro (Rp10 juta), mikro (Rp10 juta-Rp100 juta), dan kecil (Rp100 juta-Rp500 juta)

"BNI salah satu bank Himbara yang ditunjuk untuk menyalurkan kredit kepada pelaku-pelaku usaha. Terkait hal itu, kami selalu diawasi OJK, Bank Indonesia, BPKP, serta audit internal maupun eksternal," imbuh Lavenia.

Lavenia menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan para pelaku usaha kreatif demi mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di Sulteng.

Kabid Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum Sulteng, Aida Julpha Tengkere (tengah), bersama Lavenia dari BNI Kantor Cabang Palu | Foto: Lengaru.id

Arah Organisasi di Bawah Kepengurusan Baru 

Hasan Abdul Kadir mendapat kepercayaan memimpin DPW Gekrafs Sulteng. Ia dikukuhkan oleh Ketua Umum Gekrafs, Kawendra Lukistian, serta disaksikan sejumlah pengurus inti DPP Gekrafs.

Prosesi pelantikan dilakukan berbarengan dengan pengurus DPC kabupaten/kota dan Gekrafs kampus di Sulawesi Tengah periode 2026–2029.

Bagi Hasan, acara pelantikan tak hanya momen seremonial, melainkan awal untuk memperkuat organisasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Menurut dia, duet ketua dan wakil ketua DPP Gekrafs, Kawendra Lukistian-Abcandra Muhammad Akbar, menjadi modal besar untuk mempercepat pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

“Saya yakin dengan komposisi kepengurusan DPP Gekrafs Indonesia mampu menciptakan revolusi ekonomi, yaitu bagaimana mentransformasikan ekonomi yang selama ini bertumpu pada sektor ekstraktif menjadi ekonomi kreatif,” imbuhnya.

Hasan menilai Sulteng saat ini menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Namun, capaian itu belum sepenuhnya diikuti dengan penurunan angka kemiskinan.

Karena itu, ia berharap kehadiran Gekrafs mampu menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat.

Pada kesempatan itu, Hasan juga mengajak seluruh pengurus DPC yang baru dilantik untuk segera bekerja membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas kreatif, akademisi, hingga dunia usaha.

“Melalui Gekrafs, kita ingin mendorong ekonomi kreatif menjadi sektor yang mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus mengurangi kesenjangan ekonomi,” katanya.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
REKOMENDASI