Logo LENGARU.ID
Fitur Tutur Siar Ide
Pergi, Pulang, dan Masa Depan Ngata Toro

Para tetua adat di wilayah Ngata Toro risau melihat banyaknya generasi muda yang pergi. Siapa yang kelak menjaga keberlangsungan hutan dan adat?

Oleh Fandy
21 Oktober 2026 15:49 • Fitur
Bagikan ke:

Pada pertengahan November 2025, Andreas Lagimpu, salah satu tetua adat Ngata Toro, meninggal dunia. Belum genap setahun berselang, pada September 2026, Viktor Para, Ketua Lembaga Adat Ngata Toro, turut berpulang ke haribaan leluhur dan Sang Pencipta.

Bagi Rukmini Paata Toheke, kepergian keduanya terasa seperti kehilangan bagian dari dirinya. "Saya seperti kehilangan dua sayap," katanya pelan saat ditemui, Minggu (4/10/2026).

Andreas dan Viktor bukan sekadar tokoh yang menjadi sandaran pengetahuan dan kelembagaan adat. Keduanya juga mengajar di Sekolah Adat Toro, lembaga pendidikan yang dirintis Rukmini sejak 2020.

Dua bulan terakhir, kegiatan sekolah itu terhenti. Anak-anak sibuk dengan sekolah formal, sementara suasana kampung masih diliputi duka.

Di Ngata Toro, Rukmini berperan sebagai Tina Ngata (Ibu Kampung). Struktur adat Ngata Toro memberi perempuan ruang yang jembar untuk ikut menentukan arah kehidupan komunitas. Tina Ngata bukan gelar simbolis. Ia terlibat dalam musyawarah adat, penentuan sanksi, hingga pengawasan pengelolaan sumber daya alam.

Sebagai Tina Ngata, mudah belaka menemukan kediaman Rukmini. Warga yang ditanya akan langsung menunjukkan rumahnya, tepat di sebelah Bantaya, balai pertemuan yang sekaligus menjadi pusat aktivitas Sekolah Adat.

Masyarakat Adat Ngata Toro menggunakan Bantaya untuk berbagai keperluan, mulai dari pertemuan hingga kegiatan belajar. Ada pula Lobo, bangunan tradisional tempat lembaga adat mengambil keputusan tertinggi.

"Adat Toro hidup sejak dulu. Semua urusan dikelola secara adat. Yang menjaga nilai-nilai itu justru perempuan," kata Rukmini.

Dalam peradilan adat atau nota ngara, kehadiran Tina Ngata menjadi bagian penting. Ia bertindak sebagai pangalai baha (pengambil kebijakan) sekaligus pobolia ada (penjaga adat). Kadang, perkara yang dibahas bisa memancing emosi dan debat panjang. Di tengah ketegangan, Tina Ngata harus menjalankan peran sebagai petaware bisa (penyejuk suasana).  

Rukmini (duduk sebelah kanan) saat sedang mengajar di Sekolah Adat Toro | Sumber: Istimewa

Meski demikian, peran perempuan dalam struktur adat sempat memudar. Menurut Rukmini, intervensi negara melalui gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ikut mendorong perempuan menjadi pelaksana petunjuk teknis dari pusat, alih-alih pengambil keputusan yang mandiri.

Sejak 1994, sejarah Tina Ngata mulai digali kembali. Salah satu sosok yang kerap disebut ialah Hangkalea, pemimpin perempuan di Tanah Kulawi yang disegani karena mampu membendung langkah kaum penjajah. Sedangkan Tina Ngata di Desa Toro bernama Ti Loigi.

Seingat Rukmini, keduanya hidup sezaman. "Menurut cerita orang tua dulu, Ti Loigi pernah ke Kulawi menunggangi kuda untuk mengunjungi Hangkalea," katanya.

Ti Loigi juga dikenal sebagai topewula, tokoh yang mengamati bulan dan bintang untuk menentukan waktu tanam. Bagi Rukmini, kisah itu menunjukkan bahwa kepemimpinan dan pengetahuan perempuan adat telah menjadi bagian dari kehidupan komunitas Masyarakat Adat jauh sebelum negara hadir.

"Saya diangkat jadi Tina Ngata sejak 2001 sampai sekarang. Jadi saya hanya merevitalisasi peran yang sudah ada sejak dulu," ungkapnya.

Di Ngata Toro, lembaga adat terus bekerja, bahkan untuk urusan sehari-hari seperti pelamaran dan kedukaan.

Meski telepon genggam sudah digunakan, kabar duka tetap harus disampaikan secara langsung, dengan mengenakan ikat kepala siga. Untuk perkara yang lebih berat, masyarakat menggelar libu bohe (musyawarah adat besar). Salah satu perkara yang sedang ditangani ialah perampasan tanah.

Aturan adat pun terus disesuaikan. Sepanjang 2023–2024, masyarakat melakukan revitalisasi sejumlah ketentuan. Sebagian aturan, terutama yang berkaitan dengan hintuwu (hubungan antarmanusia), mulai diterapkan pada 2025.

Salah satu penyesuaian menyangkut pokamba (mahar perkawinan). Ketentuan lama yang mensyaratkan 16 ekor kerbau dinilai tak lagi sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. "Orang di sini sudah tak mampu menikah kalau mengikuti aturan sebelumnya," ucap Rukmini.

Adapun aturan mengenai katuwua (relasi manusia dengan alam) rencananya disepakati setelah libu bohe tahun ini.

Di tengah upaya mempertahankan dan menyesuaikan adat, ada satu persoalan yang terus mengganjal Rukmini: regenerasi.

Sekolah Adat yang semula menampung lebih dari 60 siswa, kini hanya punya 16 murid. Kegiatan belajar dibatasi untuk anak kelas 1–3 SMP karena Toro tidak memiliki SMA. Pertemuan rutin berlangsung setiap Jumat.

Semakin lama, menurut Rukmini, semakin sedikit anak muda yang tinggal di kampung. Setelah tamat SMP, mereka meninggalkan Sekolah Adat untuk melanjutkan pendidikan di luar Toro. Sebagian pergi ke kota, sebagian lainnya meniti karier hingga ke luar negeri.

"Saya khawatir semakin sedikit anak-anak muda yang mau belajar. Ilmu yang mereka dapat dari luar dirancang untuk memenuhi pasar kerja formal, melamar di perusahaan. Pengetahuan yang mereka bawa pulang terasa tidak bertahan dengan kehidupan di kampung," tuturnya.

***

Anak-anak belajar di Sekolah Adat Toro yang dirintis oleh Rukmini sejak 2020 | Sumber: Istimewa

Ngata Toro berada di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Dalam bahasa setempat, Ngata berarti desa, sedangkan Toro adalah nama desanya.

Perkampungan ini menjadi daerah penyangga sekaligus berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), bagian dari Jaringan Cagar Biosfer Dunia UNESCO sejak 1977. Area itu merupakan laboratorium hidup untuk menyeimbangkan pelestarian keanekaragaman hayati. 

Dari kejauhan, kampung itu tampak seperti permadani hijau di tengah bentang alam yang luas. Hutan adat menjulang di sekelilingnya, bukit-bukit mengapit lembah, dan sawah terbentang sejauh mata memandang.

Menurut publikasi Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) per Juni 2026, komunitas adat Ngata Toro berpenduduk 2.460 jiwa. Wilayah adatnya mencapai 23.855 hektare, dengan bahasa Mouma digunakan dalam keseharian.

Dalam bahasa Kulawi Moma, Toro berarti "sisa". Nama itu memiliki dua pengertian yang saling berkaitan.

Pertama, wilayah yang pernah ditinggalkan penduduknya cukup lama hingga kembali menjadi hutan belantara. Kedua, sisa penduduk Kampung Malino yang berhasil menyelamatkan diri dari sebuah peristiwa besar, lalu membangun kehidupan baru di wilayah tersebut.

Dari dua pengertian itulah nama Ngata Toro tumbuh menjadi identitas. Komunitas ini terbentuk sekitar 1950-an, ketika terjadi gelombang perpindahan masyarakat Rampi ke Toro.

Belakangan, masyarakat Uma turut datang dan menetap. Kini, penduduk Ngata Toro terdiri atas tiga kelompok etnis utama: Moma sebagai penduduk asli, Rampi sebagai kelompok mayoritas, dan Uma sebagai pendatang.

Wilayah adat Ngata Toro berbatasan dengan Desa Lindu di utara, Gimpu di selatan, Lore Utara di timur, dan Sungku di barat.

Wilayah hutan adat Ngata Toro di Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah | Sumber: Lengaru.id

Perjalanan dari Palu, ibu kota Sulawesi Tengah, memakan waktu sekitar tiga jam. Setelah melewati gerbang TNLL menuju Danau Lindu, perjalanan berlanjut melalui Jalan Poros Kulawi–Gimpu.

Sekitar tiga kilometer sebelum tiba di perkampungan, jalan kembali berbatu dan menanjak. Kendaraan harus melaju perlahan. Waktu tempuh pun terasa lebih panjang daripada perkiraan aplikasi penunjuk arah.

Bagi banyak orang, Ngata Toro menjadi contoh pengelolaan hutan berbasis adat. Prinsip hidup masyarakatnya terangkum dalam ungkapan "Maroho Ada, Manimpu Ngata"—adat yang kuat menjadikan negeri aman dan damai.

Kekuatan adat itu ditopang oleh upaya mewariskan pengetahuan kepada generasi muda. Selain Sekolah Adat yang dirintis Rukmini, ada Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro yang diasuh Said Tolao.

Pada akhir pekan, Sekolah Alam biasanya dipenuhi anak-anak yang belajar tentang hutan, aturan adat, dan cara menjaga lingkungan. Namun, pada hari itu, Said justru duduk bersama sejumlah pria dewasa.

Mereka bukan siswa atau tamu, melainkan pekerja proyek air bersih yang berlangsung tak jauh dari sekolah. "Sudah tiga bulan sekolah libur karena ada pekerjaan. Barang-barangnya mereka (tukang) ditaruh di sini," kata Said menyambut kedatangan Lengaru.Id.

Untuk mencapai sekolah, pengunjung harus menyusuri jalan setapak sepanjang satu kilometer dari permukiman. Jalurnya membelah kebun cokelat milik warga dan melintasi dua jembatan kayu sederhana di atas sungai kecil. Kedua jembatan itu, kata Said, dibangunnya dengan biaya sendiri.

Jejak galian dan pipa yang tergeletak di sepanjang jalan menjadi penanda bahwa ruang belajar untuk mewariskan pengetahuan lokal itu sedang terhenti oleh proyek pembangunan.

Said merintis Sekolah Alam pada 2015. Bangunan pertamanya dibiayai sendiri, menggunakan honor yang ia terima ketika masih menjadi mitra Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) selama lebih dari 20 tahun.

Pondok terbuka beratap rumbia yang kini berdiri merupakan bangunan kedua. Secara fisik, bangunan itu menyatu dengan rumah kayu bertingkat.

"Yang lama sudah ambruk. Bangunan baru ini dipakai sejak Juni 2025, bantuan dari warga Amerika yang pernah berkunjung," ucapnya.

Papan pengerjaan proyek di dekat Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro yang diasuh Said Tolao | Sumber: Lengaru.id

Sambil berbincang, Said menunjuk kawasan hutan sekitar 200 meter dari sekolah. Hutan itu berada di lereng dengan kemiringan sekitar 80 derajat di tepi sungai. Menurut Said, kawasan tersebut "haram" disentuh—tak boleh dijadikan kebun, diambil kayunya, atau dimanfaatkan untuk keperluan apa pun.

Di Ngata Toro, pemanfaatan ruang hutan diatur berdasarkan pembagian zona. Ada wana ngkiki, kawasan yang sama sekali tak boleh dijamah manusia. Ada pula wana, kawasan tangkapan air yang hanya boleh dimanfaatkan untuk berburu sesuai aturan adat.

Di luar kawasan yang dilindungi, masyarakat mengenal sejumlah zona untuk kegiatan berladang: pangale, pahawa pongko, oma ntua, oma ngura, oma nguku, dan balingkea.

Pembagian ruang tersebut merupakan sistem konservasi yang diwariskan turun-temurun, jauh sebelum istilah “taman nasional” atau “kawasan lindung” dikenal masyarakat.

Dengan menetapkan kawasan yang tak boleh disentuh dan membatasi pemanfaatan di zona lainnya, Ngata Toro jadi salah satu praktik terbaik tentang peran komunitas Masyarakat Adat dalam melestarikan fungsi hutan sebagai penyerap karbon di tengah ancaman krisis iklim yang kerap kali jadi kegelisahan warga dunia.

Pengetahuan tentang batas-batas kawasan itu coba ditanamkan Said kepada anak-anak SD dan SMP melalui pertemuan rutin saban Sabtu dan Minggu di Sekolah Alam.

Materinya sederhana, tetapi mendasar. "Bagi saya, tanah merupakan ibu semua makhluk. Kalau untuk anak-anak, pembekalan awal saja. Bagaimana beretika kepada alam, binatang, dan sesama manusia," katanya.

Menurut Said, minat anak-anak cukup lumayan. Tantangan justru datang dari lingkungan keluarga. "Di rumah jarang diajarkan cara menjaga hutan. Orang tua dan kakak yang sudah dewasa lebih banyak bicara soal kebutuhan harian."

Selama lebih dari satu dekade, Said menjadi pengajar yang konsisten di sekolah itu. Beberapa orang pernah membantu, tetapi hanya bertahan satu atau dua bulan.

Ia mengetahui ada anak muda yang mampu meneruskan pengajaran. Persoalannya, mereka juga membutuhkan kompensasi. "Saya juga berperasaan. Tidak mungkin mereka datang percuma, harus ada uang pengganti waktunya," ujar Said.

Kini, pada usia 77 tahun, kegelisahan Said semakin besar. Yang ia khawatirkan bukan hanya keberlanjutan pengetahuan tentang alam, melainkan juga masa depan pranata adat.

Lembaga adat memang aktif menangani pelanggaran di kawasan hutan. Namun, Said bertanya ihwal proses perwarisan pengetahuan adat kepada generasi berikutnya. "Bagaimana lembaga adat meregenerasi pemahaman aturan adat kepada para pemuda?" tanyanya sembari melempar keluh.

***

Said Tolao, 77 tahun, pendiri Sekolah Alam Tondo Lino Ngata Toro | Sumber: Lengaru.id

Rukmini dan Said menghadapi kegelisahan yang sama: bagaimana memastikan pengetahuan adat tetap hidup ketika generasi muda pergi meninggalkan kampung.

Mereka memahami bahwa anak-anak muda membutuhkan pendidikan dan pekerjaan untuk membangun masa depan. Namun, mereka juga berharap pengetahuan yang diwariskan dari leluhur tidak ikut menghilang bersama mereka yang pergi.

Di Palu, dua alumni Sekolah Adat memberikan gambaran tentang bagaimana generasi muda Toro memandang kampung halaman mereka.

Ketrin Sulfiana, siswi kelas XII Desain Komunikasi Visual (DKV) SMKN 2 Palu, masih menyimpan keinginan untuk kembali. Meski kini tinggal jauh dari kampung, gadis berusia 18 tahun itu merasa terikat secara emosional dengan Toro.

Ketika sekolah menugaskannya membuat video pendek untuk uji kompetensi keahlian, Ketrin memilih tema Budaya Adat Desa Toro. Ia mengesampingkan pilihan lain, seperti UMKM, kuliner, dan wisata.

Video berdurasi 2 menit 12 detik itu meraih peringkat pertama dari 99 karya yang dinilai. Karyanya juga menjadi satu-satunya yang mengangkat tema budaya. "Alasannya karena saya pikir adat dan budaya di Toro masih sangat terjaga," ucap Ketrin.

Ia menyadari bahwa minat anak muda terhadap budaya semakin berkurang, antara lain karena perhatian mereka tersita oleh gawai. Melalui videonya, Ketrin berharap generasi muda bisa kembali mengenal budaya Toro melalui layar yang sama.

"Menjaga budaya juga sebagai investasi masa depan. Kita-lah generasi yang diharapkan tetua-tetua adat untuk menjaga budaya Desa Toro nantinya," imbuhnya.

Ketrin pernah belajar di Sekolah Adat sejak kelas 6 SD hingga kelas 3 SMP. Ia paling mengingat proses pembuatan kain kulit kayu dan tarian adat. Cerita-cerita tentang kebudayaan juga menjadi bagian yang paling ia sukai.

Meski bersekolah di Palu, Ketrin berusaha pulang setiap akhir pekan, kadang mengendarai kendaraan sendiri, kadang bersama teman sekampung. Selain bertemu keluarga, ia sesekali mengunjungi Sekolah Alam.

Tiga tahun tinggal di Palu tak mengubah pandangannya terhadap kampung halaman. "Kehidupan di kampung lebih enak. Udaranya segar dan masyarakat saling peduli. Gotong royongnya sangat kuat. Di kota beda," ujarnya.

Ketrin merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya bekerja di Palu. Namun, ia punya rencana berbeda setelah lulus: membangun usaha sendiri di kampung.

Bahkan, ketika ditanya apakah bersedia meneruskan peran dalam kelembagaan adat seperti Tina Ngata, Ketrin langsung menjawab, "Saya bersedia dan siap menjalankan tugas-tugasnya."

Ketrin Sulfiana, generasi muda asal Desa Toro yang mengaku bersedia jika kelak diminta terlibat dalam lembaga adat | Sumber: Dokumentasi pribadi

Jenver, 16 tahun, memiliki rencana yang berbeda. Pilihannya menggambarkan kenyataan yang dikhawatirkan Rukmini: bagi sebagian anak muda, kota menawarkan lebih banyak ruang untuk berkembang dibandingkan kampung halaman.

Jenver belajar di Sekolah Adat selama lebih dari dua tahun, sejak kelas 2 SMP. Di sana, ia mempelajari cara melestarikan budaya, merawat alam, dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di SMAN 3 Palu dan kini duduk di kelas XI. Meski sudah meninggalkan kampung untuk bersekolah, Jenver masih mengingat pembagian zona hutan di Toro: wana ngkiki sebagai zona inti dan wana sebagai kawasan rimba.

Selama tinggal di Toro, ia jarang melihat pelanggaran terhadap aturan hutan. "Nilai-nilai adatnya sangat kuat. Kalau ada aktivitas di zona terlarang, dendanya cukup besar," ungkapnya.

Sejak kelas X SMA, Jenver tinggal di Palu dan mengurus keperluannya sendiri di tempat kos. Ia tetap berusaha pulang ketika libur sekolah atau ada acara adat, meski tidak selalu bisa. Terakhir kali ia kembali ke kampung adalah bulan lalu, untuk menghadiri pesta pernikahan.

Tentang teman-teman seusianya, Jenver melihat dua kecenderungan. Sebagian menggarap lahan dan membantu orang tua di kampung, umumnya karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Sebagian lainnya menetap di perantauan.

Dari teman-teman satu angkatannya di SMP Toro, menurut perkiraannya, sekitar separuh kini bersekolah di Palu. Jenver sendiri ingin kuliah ilmu hukum setelah lulus SMA, lalu meniti karier di ibu kota.

"Pendidikan di kampung tidak setara dengan yang ada di kota. Kalau sudah boleh dikata sukses, saya bisa berbagi ilmu kepada masyarakat di kampung agar termotivasi mencari pengetahuan di dunia luar," tuturnya.

Keinginan Jenver merantau dan harapan Ketrin untuk kembali memperlihatkan dua kemungkinan yang sama-sama nyata bagi generasi muda Toro. Ada yang ingin membangun kehidupan di luar kampung, ada pula yang berencana pulang. Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar jarak tidak memutus hubungan mereka dengan pengetahuan dan kehidupan adat.

Migrasi pemuda bukan hanya persoalan Ngata Toro. Di berbagai komunitas adat di Nusantara, anak-anak muda meninggalkan kampung untuk menempuh pendidikan dan mencari penghidupan di kota.

Dampaknya tidak berhenti di desa. Di kota, kedatangan penduduk baru turut memperketat persaingan kerja, menambah kebutuhan hunian, dan meningkatkan beban layanan publik. Migrasi dalam skala besar menghadirkan dua tekanan sekaligus: kekosongan generasi di desa dan kepadatan di kota.

"Salah satu akar persoalan terletak pada sistem pendidikan. Infrastruktur pendidikan yang tidak merata membuat anak-anak harus melanjutkan sekolah di luar komunitas," kata Ketua Umum Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Elisabeth Simanjuntak.

BPAN merupakan organisasi sayap kepemudaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang terbentuk sejak 2012. Adapun AMAN merupakan organisasi yang menghimpun lebih dari 2.600 komunitas Masyarakat Adat di seluruh Nusantara—termasuk Ngata Toro dan puluhan komunitas Masyarakat Adat lainnya di Sulawesi Tengah

Elisabeth Simanjuntak, Ketua Umum Barisan Pemuda Adat Nusantara, organisasi sayap kepemudaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara | Sumber: Dokumentasi pribadi

Elisabeth berasal dari komunitas Masyarakat Adat Oppu Ronggur Simanjuntak di Sumatra Utara. Sebelum memimpin BPAN untuk periode 2026–2030, ia menjabat sebagai Sekretariat Nasional Bidang Administrasi dan Keuangan BPAN.

Menurut Elisabeth, pendidikan formal jarang mengajarkan sejarah dan nilai-nilai yang berakar pada wilayah adat. Materi yang lebih sering diberikan justru sejarah di luar konteks Masyarakat Adat, misalnya masa kolonial.

“Secara tidak langsung, keterhubungan dengan leluhur diputus. Sejarah-sejarah kearifan seolah dimusnahkan,” imbuh Eli.

Akibatnya, sebagian anak muda memandang pengetahuan lokal sebagai sesuatu yang tertinggal. Di luar persoalan pendidikan, perampasan tanah adat dan kriminalisasi juga turut mendorong mereka meninggalkan kampung.

Jika para pemuda pergi dan tak kembali, kata Eli, wilayah adat berisiko terampas dan pengetahuan lokal terancam punah. Kegelisahan itu mendorong BPAN mencetuskan Gerakan Pulang Kampung—semasa kepemimpinan Jhontoni Tarihoran (2015–2018).

Gerakan ini bertujuan mengajak kembali para pemuda yang telah jauh dari kampung atau merasa "hilang" dari komunitasnya. Upayanya beragam, mulai dari menelusuri jejak leluhur hingga menggali kembali sejarah yang mulai terlupakan.

Eli teringat masa pandemi Covid-19. Ketika aktivitas di kota dibatasi, kehidupan di kampung dan komunitas adat justru tetap berjalan. Pemuda yang menggarap lahan dapat menentukan sendiri apa yang hendak ditanam dan mengatur waktu kerjanya.

Namun, bagi Eli, makna pulang kampung tidak cukup berhenti pada keterhubungan dari kejauhan. Ia mengakui banyak anak muda di kota yang tetap menjaga hubungan dengan kampung melalui kampanye di media sosial.

"Mengurus wilayah adat dari kejauhan dianggap pilihan kedua. Tapi kalau balik ke rohnya Gerakan Pulang Kampung, jiwa dan fisikmu harus kembali ke kampung," tuturnya.

Eli memberi beberapa contoh. Di komunitasnya sendiri, saudara-saudaranya yang turunan Op. Ronggur Simanjuntak pulang dari Jakarta sebelum pandemi. Sebagian wilayah adat mereka tumpang tindih dengan konsesi PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Dengan semangat Gerakan Pulang Kampung, kata Eli, anak-anak muda kembali mengurus lahan hingga perusahaan akhirnya keluar dari area tersebut.

Contoh lain adalah Natalia Kori. Setelah bekerja di Pontianak, ia memutuskan kembali ke kampung dan menjadi fasilitator pendidikan adat. “Beliau merasa jauh lebih menghasilkan ketika pulang kampung."

Bagi Eli, tantangan terbesar muncul ketika keputusan untuk pulang berhadapan dengan pertimbangan ekonomi. "Bagi yang punya kerjaan dan menerima gaji tetap, pertanyaannya apa yang harus dilakukan di kampung? Mereka yang pulang biasanya didorong oleh panggilan jiwa untuk menjaga wilayah adat," ungkapnya.

Karena itu, BPAN berupaya memetakan potensi ekonomi, ekowisata, dan peluang lain di setiap wilayah adat. Harapannya, para pemuda yang kembali tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga dapat terlibat aktif dalam kehidupan ekonomi komunitasnya.

Eli berterima kasih kepada para tetua adat yang selama ini mewariskan pengetahuan kepada generasi muda. Ia menilai kegelisahan mereka terhadap masa depan adat memiliki dasar yang kuat. Meski demikian, ia tidak menganggap generasi muda telah kehilangan identitasnya.

"Sebenarnya anak-anak muda juga tidak pernah kehilangan identitas dan pengetahuan lokalnya. Jadi tinggal bagaimana menghubungkannya dengan wilayah adat," pungkasnya.

Liputan ini hadir berkat dukungan dan kerja kolaborasi bersama Koalisi Media Alternatif (KOMA). Lengaru.Id merupakan salah satu media alternatif anggota KOMA.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
2
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
REKOMENDASI