Berselang sehari usai tampil menjadi headliners di atas panggung Haha Hihi Festival 2026 persembahan Standupindo Palu, Lengaru.id atur janji menemui Oki Daeng Mabone dan Muhammad Ali Akbar. Tempatnya di lapangan mini soccer Pintu Palu, Jalan Huntap Duyu, Kelurahan Duyu, Ahad (19/7/2026) malam.
Walaupun hanya sebatas fun football untuk mempererat silaturahmi, tetap saja judul besar dalam posternya “Senter Besar vs Senter Kecil”. Rivalitas yang sama juga menguar sepanjang penantian audiens Haha Hihi Fest 2026.
Perseteruan dua komika andalan dari kawasan timur Indonesia ini memang jadi sorotan dua bulan belakangan. Kepada Andi Baso Djaya dan Vino Putra, dua komika ini blak-blakan mengungkap awal kemunculan istilah tersebut. Lalu, bagaimana sikap asli mereka satu sama lain ketika tidak sedang berada di depan kamera dan apa hal yang bisa bikin mereka akur? Baca saja hingga titik terakhir untuk mendapatkan jawabannya.
Bagaimana awal mula munculnya istilah senter besar dan senter kecil? Siapa yang pertama kali menggunakan istilah tersebut?
Ali Akbar: Tidak ada yang mengusulkan dan tidak ada yang merencanakan juga. Cuma Oki memang bicara terlalu sombong. Setiap jadi bintang tamu di podcast-podcast, bicaranya tinggi terus. Dia selalu menyinggung saya. Akhirnya saya merespons.
Oki: Sejujurnya, itu karena kepekaannya Ali melihat situasi. Jadi setelah membuka pertunjukan spesial “Mungkin Ada Benarnya” dari bang Arie Kriting (2/5/2026), saya diundang jadi bintang tamu dalam beberapa podcast. Ternyata dia langsung merespons ucapan-ucapan sombongku itu. Akhirnya berlanjut terus. Jadi semacam simbiosis mutualisme.
Kalau orang bilang ini sengaja kami setting hingga akhirnya memunculkan acara “Standupindo Combat”, itu sama sekali tidak demikian. Semuanya mengalir saja.
Ali: Betul.
Oki: Tidak pernah kami rencanakan akhirnya jadi seperti ini. Mungkin sudah rencana Tuhan.
Berarti dari mulutnya siapa keluar pertama kali istilah senter ini?
Ali: Dari mulutnya dia ini (menunjuk Oki yang duduk di sebelahnya).
Oki: Saya yang pertama sebut dia senter kecil. Ha-ha-ha.
Ali: Sebenarnya itu obrolan di luar kamera yang dia bawa ke podcast. Akhirnya saya balas juga di podcast-podcast.
Momen apa yang bikin kalian menyadari untuk terus mempertahankan gimik senter besar versus senter kecil?
Oki: Itu juga tidak kami kondisikan. Abang-abangan komika seperti Arif Brata, Cing Abdel, Arie Kriting, Adjis Doaibu, dan Praz Teguh, istilahnya cuma ikut merespons. Jadinya tambah ramai. Sebenarnya yang kami lakukan ini bukan gimik juga.
Ali: Kehadiran para komika senior dan orang-orang yang ikut meramaikan perkara senter besar versus senter kecil ini bikin tambah seru. Orang-orang ada yang berpikir kami ini mau baku (saling) pukul betulan.
Oki: Tapi, kau ini pernah ada jengkel betulan sama saya selama tiga bulan ini?
Ali: Ada sedikit. Ha-ha-ha.
View this post on Instagram
Berarti apa yang ingin kalian luruskan kepada masyarakat supaya tidak salah mengartikan perseteruan senter besar versus senter kecil ini?
Ali: Kalau orang bilang ini settingan, saya bilang ini bukan settingan. Saya memang merasa Oki adalah “lawan” yang sudah saya tunggu sejak lama. Bahkan dulu kami pernah live TikTok baku lawan.
Oki: Dia di Ternate, saya di Palu. Itu waktu awal-awal Covid-19. Karena dia sempat hiatus juga pulang ke Ternate.
Ali: Makanya pas saya ke Jakarta lagi, saya tunggu dia juga datang. Soalnya saya rasa seru waktu perang-perang dengan dia di TikTok dulu.
Oki: Jadi kalau orang bilang baku bencinya kitorang dua ini cuma settingan, sebenarnya tidak. Bahkan di luar kamera pun kitorang baku kasih jengkel. Saling iri dan dengki, tapi bukan yang dalam artian saling bermusuhan. Mungkin seperti itulah caranya kitorang dua saling memperhatikan satu sama lain.
Kami ini saling beradu, contohnya banyak-banyakan dapat pekerjaan. Pernah dia video call saya lagi ada di bandara karena dapat job. Begitu juga sebaliknya. Waktu saya di Bandung ketemu owner sebuah brand, langsung saya video call juga dia.
Dan itu bukan settingan. Asli itu. Ada kedengkian yang asli lahir dari situ. Makanya saya bilang ini bukan gimik. Memang kitorang baku jengkel betulan. Cuma baku jengkelnya kitorang dalam hal yang positif.
Ali: Betul itu.
Oki: Kitorang baku cari, tapi bukan untuk saling baikan juga. Sekarang orang-orang lihat kami berdua satu frame di Podcast Center. Mungkin banyak yang meganggap kami saling dengki di podcast itu sekadar settingan. Jujur kalau saya dengki dengan dia, berarti itu memang dengki betulan. Pun sebaliknya. Baku tengkarnya kami itu real.
Tadi kalian ada menyinggung soal rivalitas untuk mendapatkan pekerjaan. Bagaimana sekarang posisinya?
Oki: Kalau sekarang dia sudah kalah dua tiga job dengan saya. Apalagi mau bicara jumlah pengikut akun Instagram. Sudah jauh ketinggalan dia. Ha-ha-ha.
Ali: Semenjak ada masalah senter besar dan senter kecil ini, pemasukan dia sudah unggul 700 ribu. Saya mengakui itu. Karena ratecard-nya dia lebih mahal memang. Kurang ajar.
Oki: Sama harga. Cuma bedanya, dia gampang luluh sama brand. Tiga kali ditawar langsung menyerah dia. Ha-ha-ha.
Ali. Iyo. Ha-ha-ha. Kalau dia lebih keras. Makanya saya mau belajar juga dengan Oki bagaimana caranya tidak goyang kalau baku tawar dengan brand.
Lalu, apa satu hal yang bisa bikin kalian akur?
Oki: Selain Podcast Center karena itu pekerjaan, hanya jersei bola yang bisa menyatukan kami.
Ali: Soalnya dari awal perseteruan ini muncul, kami berdua selalu muncul memakai jersei.
Oki: Dan jersei yang kami pakai selalu keren-keren dan pastinya original.
Sepintas saya perhatikan, kalian selalu memakai jersei model lawas.
Ali: Ya. Saya termasuk kolektor jersei klasik. Harganya sedikit lebih mahal dibandingkan jersei keluaran terbaru. Sekitar 4–5 jutaan per lembar. Mencarinya juga lebih susah.
Oki: Dia ini sampai harus pakai jasa titip orang di luar negeri gara-gara mau beli jersei yang dia suka. Ada jerseinya Ali yang harga 8 juta.
Kesukaan terhadap jersei bola klasik tidak bikin kalian malah bersaing mendapatkan jersei paling langka?
Oki: Saya tidak seperti Ali. Dia ini Ganindra Bimo-nya komika. Biar lagi ada di mana, selalu pakai jersei. Bahkan ketika tampil, tetap dia pakai jersei. Kalau saya ini ada rasa gerah kalau pakai jersei.
Ali: Saya mengakui saya ini sekarang lagi rajin beli jersei bola lawas.
Berdasarkan penampilan di Haha Hihi Fest 2026, berapa skor yang kalian berikan untuk satu sama lain?
Oki: Saya harus mengakui Ali tampil sempurna malam itu. Nilai 10 saya kasih.
Ali: Berhubung dia mengakui sendiri pas tampil ada tiga bit yang hilang, jadi saya kasih skor 7. Ha-ha-ha.
Kenapa bisa hilang tiga bit?
Oki: Goyang sekali saya, kak. Beban tampil di rumah sendiri. Akhirnya kelupaan tiga bit.
Setelah penampilan di Haha Hihi Fest 2026, di mana lagi panggung yang kalian hadir bareng?
Ali: Agustus nanti kami akan tampil lagi di Lucu Lucu Fest, Kendari. September kami akan tampil juga di Jambore Standupindo.
Oki: Cuma nanti di Kendari kami tidak akan battle yang sengit. Kami persiapkan yang sengitnya pas Jambore nanti. Saya juga sudah minta sama panitia yang di Kendari jadi yang pertama tampil, setelah itu Ali. Soalnya job yang di Kendari itu saya ambil setelah lihat ada Ali.
Ali: Saya ini sekarang kalau ada tawaran job stand up comedy, saya cuma bilang, “Kalau ada Oki, saya mau tampil.”
Oki: Saya juga begitu. Asal bujet sama.
Ali. Biar kami bisa duel di semua kota. Ha-ha-ha.
Apa hal yang bikin kalian kagum satu sama lain?
Ali: Soal delivery (penyampaian), Oki paling ngeri. Dia bisa lancar sekali ngomong. Sangat jarang dia ada momen yang lidahnya ta lipat-lipat alias belibet kalau bicara. Kalau saya perhatikan Oki, mirip bang Arie Kriting. Tukang ngobrol. Bercerita dengan mengalir. Storytelling.
Oki: Ali ini orang timur sendiri yang bisa jago main one liner. Bikin bit-bit cepat yang tidak butuh set up panjang untuk mendapatkan tawa penonton. Kalau saya susah begitu karena tidak tahu menulis materi.
Setiap membikin materi komedi, apakah ada batas yang kalian tetapkan untuk tidak dijadikan bahan komedi?
Oki: Sebagai penderita asam lambung, saya paling tidak bisa bikin materi yang topiknya vulgar (blue jokes) atau tentang keyakinan. Karena setelah turun panggung pasti jadi kepikiran terus. Tapi saya menikmati kalau ada komika yang membawakan materi-materi begitu.
Ali: Sejak anakku lahir, saya sebenarnya sudah stop bikin materi blue dan dark jokes. Takutnya nanti pas anakku besar, dia nonton materi komedinya bapaknya. Kenapa saya keluarkan lagi dua materi itu di panggung Haha Hihi Fest 2026 karena melihat situasinya. Ternyata dugaanku betul, hasilnya pecah.
