Logo LENGARU.ID
Fitur Tutur Siar Ide
Same Thang dan Masa Depan Baru Kopi Asia

Masa depan industri kopi tidak cukup hanya berhenti pada kualitas rasa, tapi bagaimana tanggung jawab terhadap jejak yang ditinggalkannya.

Oleh Nudin El
14 Mei 2026 13:35 Fitur
Bagikan ke:

“Make the scene get lit.”

Di antara hiruk-pikuk mesin espresso, aroma roasting, dan percakapan tentang cita rasa kopi yang menguar dalam ajang World of Coffee yang berlangsung di Bangkok International Trade & Exhibition Centre, Thailand (7–9/5/2026), ada satu booth kecil yang diam-diam menyimpan cerita besar tentang masa depan industri kopi. Namanya: SAME THANG.

Mereka tidak menjual biji kopi mahal. Tidak menawarkan teknik seduh revolusioner. Tidak pula berbicara tentang skor cupping atau varietas langka. Yang mereka bawa justru sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai: bungkus kopi bekas.

Di booth sederhana itu, kemasan-kemasan kopi spesial (specialty coffee) yang biasanya berakhir di tempat sampah berubah menjadi tas, pouch, dan berbagai produk fesyen urban. Ada yang berasal dari roastery lokal Thailand, ada pula dari berbagai merek kopi yang pernah beredar di festival kopi dunia. Setiap potongan material menyimpan jejak perjalanan industri kopi itu sendiri.

Beberapa produk hasil daur ulang Same Thang dari hasil daur ulang bungkus kopi bekas (Sumber: instagram.com/same_thang.bkk)

Saya membeli salah satunya.

Bukan semata karena bentuknya menarik, melainkan karena ada sesuatu yang terasa berbeda dari produk ini. Ia bukan hanya tas. Ia seperti membawa potongan kecil dari sejarah budaya kopi kontemporer Asia Tenggara.

Slogan mereka berbunyi: "Make the scene get lit."

Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan seperti bahasa jalanan anak muda kota. Namun, di balik slogan tersebut ada semangat yang menarik: menghidupkan kembali sesuatu yang dianggap selesai. Membuat “scene” baru dari limbah yang sebelumnya tak memiliki masa depan.

Di tengah gegap-gempita industri specialty coffee global yang terus berbicara tentang kualitas rasa, SAME THANG justru mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi: setelah kopi diminum, apa yang terjadi dengan sisa industrinya?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat penting. Sebab industri specialty coffee modern juga melahirkan paradoks baru. Semakin berkembang budaya kopi, semakin banyak pula limbah yang dihasilkan—mulai dari gelas sekali pakai, sampah kafe, hingga kemasan multilayer yang sulit didaur ulang.

Suasana World of Coffee yang berlangsung di Bangkok International Trade & Exhibition Centre, Thailand (Sumber: instagram.com/worldofcoffeeasia)

SAME THANG lahir dari kesadaran terhadap paradoks tersebut.

Di tangan mereka, bungkus kopi tidak dianggap sebagai akhir dari konsumsi, melainkan bahan baku untuk menciptakan identitas baru. Setiap tas menjadi unik karena setiap kemasan kopi memiliki desain, warna, dan cerita asal-usul yang berbeda. Di situlah mereka menemukan nilai.

Gerakan ini terasa penting karena muncul langsung dari ekosistem kopi itu sendiri. Mereka bukan aktivis lingkungan dari luar industri, melainkan bagian dari kultur kafe, streetwear, desain independen, dan komunitas specialty coffee Asia.

Itulah sebabnya produk mereka terasa organik. Tidak menggurui. Tidak menjual rasa bersalah ekologis. Mereka justru menjadikan sustainability sebagai bagian dari gaya hidup kreatif.

Fenomena seperti ini memperlihatkan bagaimana Asia Tenggara mulai membangun pendekatan sustainability yang khas. Jika di banyak negara Barat isu lingkungan sering dibahas melalui regulasi dan teknologi, maka di Asia Tenggara ia tumbuh lewat komunitas kreatif, pasar independen, dan budaya urban.

Thailand membaca itu lebih cepat.

Di Bangkok, gerakan daur ulang tidak lagi dipandang sebagai kerajinan pinggiran. Ia sudah masuk ke festival desain, ruang kreatif kota, hingga event kopi internasional seperti World of Coffee. Artinya keberlanjutan mulai diterima bukan hanya sebagai isu moral, tetapi juga sebagai bahasa budaya baru.

Panen kopi Gayo di Kampung Bale Atu, Kecamatan Bukit Bener Meriah, Aceh (Sumber: humas.acehprov.go.id)

Indonesia seharusnya bisa melangkah lebih jauh.

Kita adalah salah satu negara kopi terbesar di dunia, dengan kekayaan visual kemasan yang luar biasa. Dari Toraja hingga Gayo, dari Flores hingga Sulawesi Tengah, setiap kopi memiliki identitas estetikanya sendiri. 

Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki pegunungan, dan hampir setiap pegunungan memiliki kopi. Dari lereng-lereng vulkanik itulah lahir berbagai karakter rasa, tradisi, dan identitas visual yang kemudian hadir dalam kemasan-kemasan kopi Nusantara. 

Karena itu, satu bungkus kopi Indonesia sesungguhnya tidak hanya membawa produk, tetapi juga membawa lanskap: gunung, hutan, kabut, tanah vulkanik, serta kehidupan petani yang menjaganya. Ironisnya, setelah kopi diminum, seluruh cerita panjang itu sering berakhir sebagai sampah.

Padahal mungkin di situlah masa depan baru industri kopi bisa dimulai: bukan hanya menjual rasa, tetapi juga mengolah jejak yang ditinggalkannya.

Tas dari SAME THANG yang saya beli di World of Coffee Bangkok akhirnya terasa lebih dari sekadar barang bawaan. Ia menjadi pengingat kecil bahwa kopi bukan cuma tentang apa yang kita minum, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sisa dari peradaban kopi itu sendiri.

Dan mungkin, dari limbah-limbah kecil itulah, sebuah scene baru sedang dinyalakan.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
0
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
BACA JUGA