Logo LENGARU.ID
Fitur Tutur Siar Ide
Belajar Politik Citra dari Pencitraan Politik

Politik telah berubah menjadi industri. Persepsi tentang seorang politisi dibangun secara sistematis dengan pencitraan.

Oleh Redaksi
3 September 2025 12:36 Ide
Bagikan ke:

Catatan santai atas foto-foto dan potongan video aksi demonstrasi dari kiriman teman.

Pagi ini saya dikirimi banyak teman foto-foto dan potongan video dari aksi demonstrasi Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Palu Menggugat di Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Senin (1/9/2025).

Ada bahkan kawan baik yang sangat kritis mengirimi saya foto dan pesan, menuduh saya mencuri panggung rakyat dan menenggelamkan substasi tuntutan massa aksi. Terima kasih kawan atas kritiknya.

Agak menggelitik karena beberapa teman yang lain juga menyarankan agar sebagai politisi, saya mesti bisa memainkan panggung politik dengan baik dan perlu kecerdikan memanfaatkan setiap momentum.

Olehnya saya juga perlu menyiapkan tim media, kameramen, dan tim produksi yang siap sigap siaga setiap saat. Ini juga ada benarnya, ya. Dan sebagai politisi, tentu saya mau juga, tapi tentu itu berbiaya mahal. Karena itu, nanti saya pikirkan lagi.

Mudah-mudahan ada yang mau jadi relawan tanpa perlu alokasi khusus untuk menyewa kameramen dan tim produksi.

Politik memang telah berubah menjadi industri. Kepemimpinan tergantung persepsi ketimbang kebenaran faktanya! Ini juga tentu mengandung bahaya!

Persepsi tentang seorang politisi dibangun secara sistematis dengan pencitraan. Mengutip artikel Yeremia di Kompasiana, wajah politik pencitraan bisa kita pelajari sejak awal kemunculannya di tahun 1960, ketika Richard Nixon yang menduduki Presiden AS kalah telak oleh John F. Kennedy dalam penempatan di TV.

Terpilihnya John F. Kennedy sebagai presiden AS tidak terlepas dari pencitraan politik ketika massa media merepresentasikannya sebagai figur ideal dalam seluruh aspeknya. Sejak saat itulah praktik politik AS tidak pernah bisa lepas dari pencitraan politik.

Para kandidat presiden tidak segan-segan mengeluarkan uang ratusan miliar rupiah, tidak hanya untuk konsultasi dan pemasaran politik, tetapi juga untuk mengubah penampilan, gaya rambut, gaya pakaian, cara menghadapi media, teknik menghentikan serangan lawan, dan sebagainya. Ini tentu mengandung bahaya!

Persepsi tentang seorang politisi dibangun secara sistematis dengan pencitraan. Lebih jauh, Yeremia di Kompasiana menulis, bahwa politik citra tentu berbahaya karena melanggengkan hasrat primordial manusia untuk berkuasa dengan memanfaatkan segala cara demi merebut kekuasaan tersebut.

Akibatnya kita akan memiliki pemimpin yang terus bersolek saat jutaan masyarakat menderita kemiskinan dan ketidakadilan. Politik citra juga mengamini penampilan sebagai yang seolah-olah merepresentasikan kenyataan objektif sang pemimpin. Hanya akan menumpulkan kesadaran kritis kita untuk menempuh jarak demi melawan praktik-praktik kekuasaan yang korup dan tidak manusiawi.

Kembali ke soal rencana merekrut relawan utk kameramen dan tim produksi tadi, saya berpikir kembali, mungkin jauh lebih prioritas saat ini bagi saya untuk terus mendorong kesadaran kritis teman-teman aktivis, mahasiswa, masyarakat lebih luas, untuk terus berpikir kritis dan berlawan.

Mungkin hanya dengan cara ini kekuasaan akan kembali ke tangan rakyat dari cengkeraman oligarki. Mungkin hanya dengan cara ini pemilu akan menghasilkan pemimpin yang genuin yang lahir dari rahim rakyat.

Tentu melalui pemilu yang demokratis, substasial, bukan pemilu yang sekadar prosedural administratif yang hanya memberi kesempatan besar bagi yang punya uang besar untuk menang!

Semoga ya.

Terima kasih teman-teman atas kiriman dokumentasi dengan caption beragam.

Aristan, S.Pt., Wakil Ketua I DPRD Provinsi Sulteng dan Sekretaris DPW NasDem Sulteng

Catatan redaksi: Tulisan opini merupakan pandangan pribadi penulis. Lengaru.Id menerima tulisan berbentuk opini sebagai usaha untuk memperkaya perspektif dalam melihat sebuah fenomena dan isu tertentu.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
2
Jatuh cinta
0
Lucu
1
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
REKOMENDASI