Logo LENGARU.ID
Fitur Tutur Siar Ide
Cerita LGBTQ di Palu: Jangan Sampai Penolakan Berujung Kekerasan

Kampanye Anti-LGBTQ menguat di Palu. Ardi, nama samaran, terpaksa harus mengubah banyak kebiasaan agar tidak tampak mencolok.

Oleh Fandy
3 Agustus 2026 10:08 Fitur
Bagikan ke:

"Rasa suka itu cuma dari pandangan saja, tidak sampai yang bagaimana. Masih ada pikiranku; ini salah, tapi hati mana bisa dibohongi."

Ardi—nama samaran—mengucapkannya dengan suara pelan. Pria berusia pertengahan 20-an itu berbagi kisahnya sebagai seorang gay kepada Lengaru.id pada akhir Juli 2026.

Ia seorang perantau yang baru sekitar setahun menetap di Palu. Di ibu kota Sulawesi Tengah ini, Ardi memilih hidup lebih hati-hati.

Ardi menyadari ketertarikannya pada sesama jenis saat duduk di bangku SMA. Awalnya, ia masih mencoba menjalani "kehidupan biasa". Ia pernah mengencani perempuan. Hubungan terakhirnya kandas antara tahun 2022–2023. Setelah itu, hidup Ardi berubah pelan-pelan.

Suatu ketika ia indekos bersama Lukman (juga nama samaran). Awalnya hanya teman satu indekos. Berbulan-bulan lewat, Ardi akhirnya mulai menaruh perasaan. "Suka sebatas pandangan saja," ucapnya.

Tapi perasaan itu bikin Ardi gelisah. Ia takut dijauhi teman-teman dan keluarga. "Kan dorang tahu saya pernah pacaran sama perempuan. Sekarang jadi begini," kata Ardi.

Ketakutan itu jadi pergulatan batin bagi Ardi. Ia memutuskan pulang kampung demi membangun jarak dengan lingkungan barunya. Beberapa waktu kemudian ia sempat dirawat di rumah sakit. Saat itulah Lukman datang menjenguk dan merawatnya. Perhatian itu membuat perasaan yang sempat ia tekan kembali muncul.

Sad danbo (Aset: Alexas_Fotos/pixabay.com)

Pergolakan Batin yang Tak Berujung 

Ardi berusaha melawan. Ia bergabung dengan jemaah tablig selama 40 hari. Nyaris seluruh waktunya diisi ibadah—salat, mengaji, menghafal. Membatasi diri main ponsel.

Pun media sosial dijauhkan dari apa saja yang berhubungan dengan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ). "Selama ikut jemaah tablig pokoknya ibadah saja. Tidak ada berpikir yang lain," ungkapnya.

Setelah keluar dari jemaah, Ardi hijrah ke salah satu kota di Sulawesi Selatan. Di sana ia dihubungi Fahmi (bukan nama sebenarnya)—teman sekampung yang sudah lebih dulu menetap.

Fahmi mengajaknya bergaul. Ardi belakangan baru tahu bahwa Fahmi dan teman-temannya juga gay. “Awalnya cuma kenalan, lama-lama keterusan. Jadi turun lagi iman,” katanya berseloroh.

Di kota itu Ardi dekat dengan salah seorang teman Fahmi. Mereka jadi sering bersama, saling curhat, lalu akhirnya berpacaran. Beberapa bulan kemudian, Ardi terpaksa pulang kampung untuk menjaga saudaranya. Semua biaya kepulangannya ditanggung sang pacar.

"Ada rasa bersalah juga pas mau pulang. Karena kan semua ongkos dia biayai, tapi harus saya tinggal," ujar Ardi.

Sampai sekarang, mayoritas keluarga besar Ardi belum mengetahui orientasinya. Ada yang mulai curiga karena gayanya yang cenderung feminin.

Pernah saudara menegurnya agar jangan sampai menyukai sesama jenis. Ardi merasa tidak nyaman dengan omongan semacam itu, lalu memilih menjaga jarak.

Satu sisi, ada juga anggota keluarga yang bersikap lebih longgar. "Ada keluarga yang tahu keadaanku. Dia bilang, 'Itu terserah kau karena kau yang jalani'. Yang penting selama saya tidak merugikan orang lain saja" terangnya.

Sejak tinggal di Palu, Ardi memilih tidak menjalin hubungan. “Beberapa bulan ini cuma teman-teman nongkrong saja. Tidak sampai bawa perasaan," kata Ardi.

Di Palu, isu LGBTQ menguat hari-hari belakangan. Pada 25 Juni, ratusan orang bikin deklarasi penolakan LGBTQ di alun-alun Vatulemo. Sehari berselang, sekelompok massa berdemo mendesak DPRD Sulteng merumuskan Peraturan Daerah (Perda).

Medio bulan lalu, DPRD Sulteng mulai menggelar pertemuan menindaklanjuti aspirasi ihwal pembentukan Perda Anti-LGBTQ. Sejauh ini belum ada fraksi yang secara terbuka menyatakan penolakan terkait usulan tersebut.

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyatakan menolak LGBTQ. Pernyataan itu ia sampaikan usai menghadiri Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Sulawesi Tengah di Palu pada 30 Juni. Dalam kesempatan yang sama, Anwar Hafid juga mengatakan bahwa setiap orang harus tetap diperlakukan sebagai sesama manusia tanpa stigma maupun perlakuan diskriminatif.

Di tengah suasana itu, Ardi dan teman-temannya semakin berhati-hati. Mereka saling mengingatkan agar tidak mencolok. “Sempat terpikir tidak mau ikut nongkrong karena lagi sensitif sekali. Kalau, toh, kumpul, jangan terlalu kelihatan," imbuh Ardi.

Ia sendiri sudah mengubah banyak kebiasaan. Suatu hari saat berolahraga memakai celana pendek, temannya menegur, “Jangan terlalu gemulai, nanti diludahi kau itu." Ketika harus mengeluarkan motor yang terhalang, Ardi sengaja bersikap kaku. "Pokoknya saya kasih pindah itu macam tukang parkir. Saya angkat itu motor." 

Mengenai ramainya kampanye antiboti, Ardi tidak menolak hak orang untuk menyuarakan pendapat soal LGBTQ. “Sah-sah saja mereka lakukan itu. Saya paham alasannya. Tapi jangan sampai menormalisasi kekerasan. Jangan sampai diludahi di jalan atau dipukul," pungkas Ardi.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by AJI Jakarta (@aji_jakarta)

Ketika Media Lebih Banyak Mengikuti Arus 

Cerita seperti dari Ardi jarang muncul dalam pemberitaan lokal. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencermati pola pemberitaan media di Kota Palu terkait isu LGBTQ beberapa waktu terakhir.

Berita-berita yang muncul didominasi liputan aksi penolakan dan progres pembentukan peraturan daerah. Respons senada dari lembaga eksekutif dan legislatif mendapat ruang cukup luas.

"Mengutip pernyataan pejabat itu sah dan merupakan bagian dari tugas media dalam merekam dinamika publik," ujar Koordinator Divisi Gender, Anak, dan Kaum Marjinal AJI Palu, Nurhayati, Minggu (2/8/2026).

Namun, Nurhayati melihat adanya ketimpangan. Suara dan pengalaman dari individu LGBTQ yang terdampak langsung hampir tidak mendapat tempat yang proporsional.

AJI Palu memandang kebanyakan media lokal tampak lebih responsif terhadap gerakan yang mendapat dukungan mayoritas masyarakat plus pejabat.

"Pendekatan ini wajar, tapi berisiko membuat pemberitaan berat sebelah. Karena lebih banyak merekam gelombang penolakan, publik hanya disuguhi potret satu arah," jelas Katrin, sapaan akrab Nurhayati.

Katrin mengingatkan kode etik jurnalistik menuntut keberimbangan dan kehati-hatian saat memberitakan kelompok yang sedang berada dalam posisi rentan. AJI Indonesia bahkan telah membuat panduan jurnalisme untuk melawan ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas gender dan seksual.

Pada titik ini, Katrin menyoroti minimnya pendekatan humanis dalam pemberitaan. Jarang ada kisah yang menempatkan individu sebagai manusia utuh—dengan pergolakan batin, pilihan sulit, dan upaya bertahan.

Bila ingin mengangkat kisah mereka, Katrin menekankan pentingnya melindungi narasumber. Dalam isu yang sedang memanas, katanya, jurnalis harus memastikan identitas orang yang berbicara tidak justru membahayakan keselamatan mereka.

Di kota yang nyaring menyuarakan penolakan, pihaknya mengimbau jurnalis di Palu tidak andil dalam memperkuat stigma lewat berita terhadap kelompok marjinal lagi rentan.

"Kalau hanya memperkuat satu narasi, media justru ikut serta menciptakan iklim yang semakin menekan dan diskriminatif. Letakkan semua aspek dalam kerangka yang adil dan tidak menghakimi," tuturnya.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
3
Jatuh cinta
0
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
1
REKOMENDASI