Logo LENGARU.ID
Fitur Tutur Siar Ide
Fotografer FotoYu: Dulu Cuan Kini Untung-untungan

Meningkatnya tren olahraga lari di kalangan masyarakat urban memantik kemunculan fotografer pehobi lari. Kehadiran platform FotoYu jadi penunjang.

Oleh Fandy
11 September 2025 20:53 Fitur
Bagikan ke:

Awalnya Syahman (25) masih berbekal kamera pinjaman dalam mengabadikan momen demi momen. Kini ia sudah memiliki kamera sendiri hasil berjualan foto melalui aplikasi FotoYu. 

Aplikasi yang hadir sejak 2022 ini mendaku sebagai platform lokapasar yang mempertemukan fotografer (kreator) dengan users untuk jual beli foto dan video personal. Teknologinya menggunakan pengenalan wajah berbasis artificial intelligence alias akal imitasi.

Kami menghampiri lelaki asal Ampana itu di alun-alun Vatulemo Palu, Minggu (7/9/2025). Tempat ini menjadi sangat ramai ketika akhir pekan. Penuh dengan ragam aktivitas warga.

Sambil mengobrol Syahman sibuk memotret pelari yang memutari lapangan menggunakan Canon EOS R Mirrorless. Kamera miliknya itu seharga Rp19 juta.

"Saya mengenal FotoYu akhir tahun 2023, dari belum memiliki kamera. Sekarang sudah ada kamera sendiri. Kalau lensa saya beli bekas Rp2,5 juta dari teman," katanya.

Syahman intens memotret pelari bila sedang tak ada tawaran menjadi juru foto pernikahan atau akikah. Selain di Vatulemo, ia kadang stand by di spot lain macam Taman GOR dan Jalan Cumi-Cumi, Kelurahan Lere, lokasi jembatan Palu IV yang kini juga sudah mulai ramai.

Di awal-awal kemunculan FotoYu di Palu, belum banyak fotografer yang menjepret orang-orang yang tengah berolahraga. Mereka yang "mencari hidup" dari FotoYu waktu itu masih bilangan jari tangan.

Alhasil, Syahman meraup pendapatan cukup menggiurkan karena persaingan masih rendah. Satu foto dibanderol minimal Rp25 ribu. Katanya harga itu adalah hasil kesepakatan dari semua fotografer di area yang sama.

"Dulu bisa sampai 30-40 foto yang terjual. Rata-rata pendapatan sehari bisa sejuta lebih. Harga masih bisa dipatok karena jumlah fotografer terbilang sedikit," ungkapnya.

Salah seorang fotografer tampak sedang mengarahkan lensa kameranya untuk memotret aktivitas orang-orang yang berlari di Taman GOR Palu (Sumber: Lengaru.id)

Beriring waktu, kreator yang memanfaatkan platform FotoYu kian marak. Orang-orang melihatnya sebagai sumber cuan. Kini, satu pelari bisa dipotret oleh banyak fotografer.

Semisal di Lapangan Vatulemo, ada belasan moncong kamera pelbagai spek yang mendokumentasikan ekspresi pelari dari segala sudut. Para fotografer olahraga ini mudah dijumpai saban pagi dan sore. 

Senja menunjukkan tanda-tanda segera datang. Syahman mulai mengemasi peralatan fotografinya. Selain kamera, kursi lipat teleskopik dan laptop menjadi barang yang selalu ia bawa ketika membidik subjek di jalur olahraga publik.

Usai memotret, fotografer umumnya langsung mengunggah hasil jepretannya ke FotoYu. Dalam hitungan jam, pengguna bisa mengakses foto yang diinginkan berdasarkan data biometrik wajah.

Sore itu ada ribuan foto yang dihasilkan Syahman. Bila beruntung, pelari yang ia foto akan menebus hasil jepretannya lewat platform FotoYu.

"Sekarang fotografer makin banyak, jadi rezeki semakin terbagi. Pernah tidak ada foto yang laku dalam satu hari. Sekarang saja masih ada yang membeli foto saya yang tahun lalu," imbuh Syahman.

Karena itu, Syahman bersama rekan-rekannya banyak mengincar momen-momen tertentu seperti car free day atau event-event lari.

"Saat event banyak orang mau mengabadikan momennya. Jadi peluang buat dibeli lebih besar. Sekarang masih lumayan, bisa dapat ratusan ribu," tuturnya.

Meski memotret di ruang publik, Syahman sebisa mungkin menjaga kenyamanan satu sama lain. Sebab tak semua pelari mau difoto seenaknya.

Pengalaman ini pernah dialami Syahman pada 2024. Ia bersama sejumlah fotografer didatangi seseorang yang memprotes mereka ketika sedang bekerja mengabadikan momen pelari di Taman GOR.

"Kejadian itu jadi pelajaran. Makanya saya memperhatikan gestur pelari. Misalnya ada yang menunduk atau buang muka, artinya dia tidak mau difoto. Dan saya tidak akan memotretnya. Etika ini tidak boleh diabaikan," imbuhnya.

Situs web Jakarta Street Photography pernah menulis tentang “Kode Etik Street Photography”. Isinya memuat 10 prinsip kode etik yang umumnya diikuti dalam street photography, mulai dari menghormati privasi, tidak mengganggu, menghormati batasan hukum, menjaga kehormatan dan martabat subjek, hingga tidak memanipulasi adegan.

Ruang terbuka yang banyak dimanfaatkan warga untuk berolahraga, semisal Lapangan Vatulemo, jadi tempat para fotografer untuk memotret (Sumber: Lengaru.Id)

Cerita lain datang dari Moh. Hafid. Berbeda dari Syahman, fotografer berusia 38 tahun itu tidak terlalu aktif mengikuti tren FotoYu.

Setidaknya dalam kacamata Hafid, platform itu tidak semenjanjikan dulu. Persaingan fotografer FotoYu kian ketat. Hanya sesekali saja ia menjajal sport photography kendati di Palu banyak spot pelari.

"FotoYu ini memudahkan orang-orang untuk membeli foto. Karena kemudahan inilah semakin banyak yang tertarik. Satu sisi jadinya sudah tidak potensial," katanya pada Lengaru.id, Rabu (10/9) malam.

Selama ini Hafid lebih mengandalkan pendapatan dari tawaran memotret acara pernikahan dan pranikah. Nikon Z6 II yang harganya setara motor Yamaha Nmax menjadi peralatan utamanya. Kamera ini pula biasa ia pakai untuk memotret aktivitas di ruang publik.

Namun, bagi Hafid, laku tidaknya foto tidak bergantung pada spesifikasi kamera maupun mahalnya lensa.

Tak sedikit teman Hafid yang membawa kamera dengan spesifikasi juara. Memotret di area yang sama dengan fotografer pemula. Lakunya juga tidak seberapa.

"Syukur-syukur kalau ada yang beli. Saya kadang-kadang tiga hari baru ada yang laku, itupun cuma satu biji dari ratusan foto. Tapi lebih sering tidak ada. Ha-ha-ha," kelakar Pitonk—sapaan akrab Hafid.

Belum lagi, ujar Pitonk, kreator FotoYu yang bisa menentukan sendiri harga foto belakangan memicu gesekan sesama fotografer.

"Mungkin ada fotografer yang memang fokus berkecimpung di FotoYu. Biasa mereka yang baru masuk kasih harga sembarangan. Lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasaran," ungkapnya.

Rukly Chahyadi termasuk pelari rekreasional yang sering menebus foto larinya saat melintas di pelbagai sudut Kota Palu.

Alasan pertamanya tentu untuk dibagikan di media sosial. Selain itu, membeli termasuk caranya menghargai karya seseorang.

"Ini bukan sekadar hasil akhir, tapi yang kita bayar adalah waktu, keterampilan, dan alat yang mereka gunakan. Lagipula yang dibeli juga foto sendiri," ucap Rukly.

Selama dirinya beraktivitas di ruang publik, Rukly tak masalah bila dirinya terabadikan oleh kamera fotografer olahraga. Toh mereka memang memotret pelari secara acak dan mendapat cuan dari sana.

"Karena itu di ruang publik, saya maklum saja. Yang penting fotonya dikelola resmi lewat FotoYu, jadi privasi saya tetap aman dan fotografer juga dapat haknya. Saya malah senang bisa beli fotonya buat kenang-kenangan," terangnya.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
2
Jatuh cinta
1
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
BACA JUGA