Logo LENGARU.ID
Fitur Tutur Siar Ide
Welderahmat: Saya Komposer Sekaligus Dirigen dan Laptop Adalah Pemainnya

Live coding music yang merupakan subgenre baru dalam musik elektornik bikin Welderahmat terpincut. Kini sudah merilis dua album.

Oleh Mawan
18 Agustus 2025 10:08 Tutur
Bagikan ke:

Welderahmat belum lama ini seolah jadi seperti penampil wajib dalam berbagai perayaan komunitas. Sebut saja Ramporame Tumbuh Bersama, Pameran Garis Mencurigakan dari Mutuals, dan Festival Film Tengah. 

Pria bernama lengkap Muhammad Welderahmat, kelahiran 20 Desember 2002, tumbuh besar di Kabupaten Parigi Moutong. Ketertarikannya pada dunia seni, khususnya musik tradisional, bermula ketika semasa SMA kala ia bergabung dalam sanggar seni sekolah.

Kini ia dikenal sebagai komponis live coding music. Dua album sudah dihasilkannya; Phenomenon (2023) dan Senyap (2025). Bisa didengarkan atau beli langsung melalui Bandcamp.

Live coding music merupakan ragam subgenre baru dalam skena musik elektronik. Melibatkan komposer yang menulis dan mengubah kode dalam bahasa pemrograman untuk memberikan instruksi kepada komputer.

Dalam setiap pertunjukan, kode yang ditulis komposer diproyeksikan ke layar, sehingga penonton melihat langsung bagaimana musik tercipta. Ada pula elemen visual art yang seringkali menyertai pertunjukan.

Subkulturnya dikenal dengan sebutan algorave. Perpaduan dari kata algoritma dan rave. Mulai tumbuh mekar dan menyebar di Indonesia sejak beberapa tahun silam. Para seniman pelakunya berhimpun melalui Paguyuban Algorave Indonesia yang terbentuk sejak April 2021 di Yogyakarta. 

Lewat penampilannya, Welderahmat memberi pengetahuan baru tentang metode atau cara memainkan musik. Menyatukan cara memainkan bebunyian dalam bentuk bahasa pemrograman agar komputer dapat memahami dan menjalankan bunyi sesuai keinginan pengampunya.

Aksinya tidak saja menawarkan eksplorasi bebunyian dan suara, tapi juga bentuk baru dalam memainkan musik dalam bahasa pemrograman komputer. 

Berikut petikan obrolan Lengaru.id bersama Welderahmat via panggilan video WhatsApp, Jumat (15/8/2025).

Penampilan Welderahmat saat meniup lalove (Sumber: Istimewa)

Perkenalan awal dengan dunia kesenian bermula dari mana?

Awal saya kenal dengan kesenian, khususnya musik, waktu SMA. Saat itu saya gabung sanggar seni sekolah di SMA 1 Parigi. Pertama belum tahu apa-apa, saya kira kesenian itu hanya seni tradisional atau etnis.

Mas Edy Subianto dan Kak Irwan Kurniawan yang banyak ajarkan saya tentang dunia kesenian. Mereka berdua saya anggap sebagai mentor perihal kesenian saat di Parigi. 

Sejak saat itu saya belajar musik tradisional dan dikenal sebagai pemain lalove (alat musik tiup tradisional dari Suku Kaili, Sulawesi Tengah, yang bentuknya mirip seruling, red.).

Saat ini berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, apakah jurusan yang diambil masih berhubungan dengan musik tradisional?

Iya pastinya. Di sini saya ambil jurusan etnomusikologi. Pelajarannya banyak membahas tentang musik dan budaya. Bukan hanya belajar musik utama, tapi belajar juga kenapa orang bikin musik dan apa artinya buat masyarakat.

Berarti minat sama musik tradisi dan jurusan etnomusikologi tidak punya hubungan dengan minat saat ini sebagai live coder?

Justru punya hubungan yang erat. Etnomusikologi cakupannya luas, budaya yang dimaksud itu bukan hanya budaya tradisi, tapi juga budaya musik saat ini. 

Contohnya gerakan “generasi bunga” di Amerika Serikat yang antiperang. Musik dijadikan pesan damai yang diusung gerakan itu. Akhirnya membudaya karena fenomena atau kejadian saat itu. Jadi live coding music juga secara teknis praktik artistik bisa dibedah dari kacamata etnomusikologi.

Kenal pertama kali pertunjukan live coding music dari mana?

Dari senior di kampus namanya Rangga Purnama Aji, salah satu yang memulai pertunjukan live coding music di Indonesia. Pernah saya lihat videonya tampil. Waktu itu saya belum tahu kalau itu namanya live coding music

Hanya saja saya penasaran. Dia main musik, tapi alat yang dia bawa sederhana sekali. Cuma laptop. Waktu dia main, ada macam kode-kode begitu.

Jadi saya cobalah tanya apa itu. Setelah dia jelaskan, baru saya minta diajarkan. Eh, besoknya dia yang datang ke kos bangunkan saya dan ajarkan live coding music. Ha-ha-ha. Ada mungkin 1–2 bulan rutin diajarkan, sambil sekali-sekali saya otodidak.

Sampul dua album yang telah dirilis Welderahmat (Sumber: Istimewa)

Bagaimana menjelaskan cara kerja live coding music secara sederhana?

Kalau diumpamakan pentas ensambel, saya jadi komposer sekaligus dirigen dan laptop adalah pemainnya. Jadi lewat kode-kode yang saya susun, itu jadi perintah ke laptop untuk membunyikannya.  

Pernah dapat respons unik saat selesai pertunjukan?

Nah itu, saya juga sadar betul apa yang sementara saya perbuat ini mungkin bukan hal yang famililiar. Jadi dirasa kurang seru. Makanya waktu tampil di Ramporame saya coba masukkan bebunyian lalove dan gimba. 

Selesai tampil itu saya didatangi Mas Edy. Sambil senyum dia bilang, “Sudah jauh sekali kau ini. Tidak sampai saya.” Saya menangkap itu sebagai ungkapan bangga begitu. 

Mas Edy itu senior sekaligus mentorku di kesenian. Dia juga orangnya fair. Kita tidak diposisikan sebagai junior kalau sedang diskusi.

Pernah juga waktu main di Parigi yang lokasinya di pinggir jalan. Pengujung penampilanku itu saya masukkan bersamaan bunyi letusan seperti bom dan senjata. Pas selesai bunyi letusan itu, orang-orang yang ada di kafe seberang jalan kaget dan keluar semua.

Jika diharuskan memilih salah satu, mau dikenal sebagai peniup lalove atau live coder?

Sebenarnya berat sekali kalau diminta pilih salah satu, tapi kayaknya saya pilih ingin dikenal sebagai live coder karena saya masih mau menyelami lebih dalam tentang ini.

Namun, bukan berarti saya berhenti main lalove. Soalnya sampai sekarang saya juga masih main lalove.

Selepas kuliah nanti apa yang akan diperbuat menyangkut dunia kesenian, khususnya musik?

Mau balik ke Palu dan Parigi. Saya ingin berbagi apa yang saya dapatkan di sini. Maksudnya bukan mau menggurui, saya ingin melihat kita bisa berkembang sama-sama jadi satu ekosistem.

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?
Suka
1
Jatuh cinta
1
Lucu
0
Sedih
0
Kaget
0
Marah
0
BACA JUGA